Pekerja Anak adalah suatu kegiatan dimana pekerja di bawah umur atau anak-anak di eksploitasi tenaga dan pikirannya sehingga mengakibatkan kerugian bagi anak tersebut baik dari segi fisik, mental, moral atau membatasi aksesnya dalam bidang pendidikan. Akan tetapi definisi pekerja anak ini berbeda di berbagai belahan dunia, ada yang menganggap baik karena membantu tumbuh kembang anak dan ada yang mengecam karena si anak bisa saja tidak dibayar dan di eksploitasi.
Anggapan tersebut terus simpang siur hingga UNICEF mengungkapkan standarnya tentang pekerja anak pada tahun 1997 di konvensi World’s Children Report bahwa “Pekerja anak patut dilihat sebagai fenomena yang terjadi sepanjang masa, dengan pekerjaan yang destruktif dan exploitatif di satu sisi dan mempromosikan atau meningkatkan pekembangan anak tanpa mengganggu sekolah, rekreasi dan istirahat anak di sisi lain. Dan di antara kedua kutub tersebut terdapat area pekerjaan yang luas di mana tidak mempengaruhi anak secara negatif.”
Berbagai anggapan membuat definisi pekerja anak menjadi bias namun di artikel ini kami akan menggunakan definisi pekerja anak sebagai pekerja di bawah umur 18 tahun yang membuat si anak menderita kerugian-kerugian seperti yang telah dimaksudkan di paragraf satu.
Mengapa Perusahaan menggunakan Pekerja Anak?
Keuntungan merupakan definisi dari bisnis sehingga menyediakan suatu produk atau jasa secara gratis bukan merupakan bisnis. Keterikatan dengan keuntungan itu merupakan suatu alasan khusus mengapa bisnis selalu rawan dari sudut pandang etika. Kalau keuntungan menjadi tujuan bisnis, pebisnis mudah tergoda untuk menempuh jalan pintas, guna mencapai tujuannya dengan lebih cepat dan mudah. Dalam hal ini pekerja anak adalah alternatif yang mudah dan murah.
- Mudah untuk diatur karena ketidakberdayaannya membela diri,
- Murah untuk dibayar karena diskriminasi pekerjaan dibandingkan orang dewasa (dalam beberapa kasus bahkan tidak dibayar)
Dengan cara ini perusahaan akan dapat menekan ongkos produksi semaksimal mungkin sehingga memperlebar range profit yang bisa di dapat. Hingga pada akhirnya banyak perusahaan yang tergoda untuk menggunakan pekerja anak terutama di bagian produksi.
Pekerja Anak dalam sudut pandang Etika
Tidak bisa diragukan lagi karena pekerjaan yang dilakukan oleh anak merupakan topik dengan banyak implikasi etis, tetapi masalah ini sekaligus juga sangat kompleks, karena faktor – faktor ekonomis di sini bermain dengan aneka macam cara, bercampur baur dengan faktor – faktor budaya dan sosial. Faktor ekonomi keluarga contohnya di mana sang anak mendapatkan tekanan untuk harus bekerja juga demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Dari sudut pandang etika, mempekerjakan anak adalah hal yang yang tidak etis baik dari sisi persaingan bisnis maupun dari perlindungan anak dimana :
- Dengan mempekerjakan anak, Hal itu secara jelas bertentangan dengan hak anak. Mereka berhak dilindungi terhadap segala upaya eksploitasi, terutama karena anak-anak belum mampu membela dirinya sendiri.
- Alasan kedua menegaskan bahwa mempekerjakan pekerja anak merupakan cara berbisnis yang tidak fair. Sebab, dengan cara itu pebisnis berusaha menekan biaya produksi dan dengan demikian melibatkan diri dalam kompetisi kurang fair terhadap rekan – rekan pebisnis yang tidak mau menggunakan hak anak, karena menganggap hal itu cara berproduksi yang tidak etis.
- Pekerjaan yang dilakukan anak juga melanggar hak anak, karena mengeksploitasi tenaga mereka yang belum maksimal.
Dengan berbagai implikasi tersebut status pekerja anak dapat merugikan si anak sendiri dan persaingan dalam lingkungan bisnis yang menjunjung fair trade alias keadilan dalam perdagangan. Sebuah band rock dari Amerika “Rise Against” menuliskan sebuah lagu yaitu Prayer of the Refugee yang menggambarkan di dalam video klipnya bagaimana perdagangan yang tidak menjunjung fair trade hanya akan menguntungkan negara-negara kaya yang notabene adalah negara konsumen dan merugikan negara dunia ketiga yang notabene adalah negara produsen.
Solusi apa yang ada untuk mengurangi Pekerja Anak?
Solusi yang ada untuk membantu kita mengurangi pekerja anak bisa datang dari berbagai pihak baik dari sisi keluarga, pemerintah dan lingkungan usaha di mana ketiga pihak tersebut harus dapat bekerja sama untuk dapat memakmurkan diri. Solusi yang ada dapat berupa
- Meningkatkan pendapatan keluarga : Orang tua adalah tulang punggung keluarga dan bukan anak, sebagai penanggung jawab keluarga, orang tua harus bekerja lebih keras dan berusaha berpikir cerdas untuk memperoleh pendapatan yang lebih baik.
- Pendidikan : Dunia modern saat ini dibangun oleh pendidikan yang baik dan pembelajaran terus menerus akan berbagai subjek sehingga anak-anak harus dibekali pendidikan yang baik untuk dapat bertahan dan meraih kehidupan yang lebih baik di masa depannya.
- Perlindungan Jaminan Sosial : Jaminan Sosial dapat disediakan oleh pemerintah sebagai salah satu tugasnya untuk melayani rakyat, Lembaga nirlaba seperti LSM perlindungan anak maupun oleh perusahaan dengan program Corporate Social Responsibilitynya. Jaminan Sosial semacam ini akan membantu keluarga melewati krisis dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
- Program Keluarga Berencana : agar keluarga tidak terlalu dibebani oleh keberadaan anak
Dan mungkin terdapat lebih banyak solusi lainnya, yang bisa anda sampaikan namun pada akhirnya semua berawal dari diri sendiri apakah kita sanggup untuk memulainya.
Tentang Penulis : Angger Wisanggeni
Semua tentang internet adalah hobiku saat ini. mulai dari browsing, blogging, SEO, dan semua hal yang berkaitan dengannya. Di dalam pencarianku akan dunia maya yang ideal untukku dan kuharap untuk banyak orang lainnya mudah-mudahan cuitcuit.com bisa menjadi jembatan untuk itu.
- Web |
- Google+ |
- More Posts (20)
